15 penyakit kucing yang menular pada manusia

Kucing memang lucu dan bikin gemas. Kamu nggak hanya betah melihat wajah dan ekspresinya yang imut-imut. Bahkan, tingkah lakunya juga bikin kamu terhibur. Memelihara kucing juga terbukti membantu menurunkan tekanan darah dan stres. Dan kucing juga bisa jadi teman curhat terbaikmu. Akan tetapi, ada sisi kelam yang perlu kamu tahu tentang kucing. Kucing tidak terawat bisa jadi sumber penyakit. Beberapa penyakit itu ternyata juga bisa menular ke manusia (zoonosis). Menurut CDC.gov, ada 15 penyakit kucing  yang bisa menular ke manusia. Contohnya: Toksoplasmosis, Campyblobacteriosis, Cat Scratch Disease, Cat Tapeworm, Rabies, dll. Tapi, kamu nggak perlu terlalu takut (phobia). Dan nggak berarti kamu harus buang kucing kesayanganmu! Soalnya, ada beberapa cara supaya kamu dan si meong sama-sama sehat. Penasaran? Baca sampai selesai 15 penyakit kucing yang menular pada manusia dan cara pencegahannya.

1. Toksoplasmosis

Saya meletakkan Toksoplasmosis di urutan nomor satu, dan ini ada alasannya. Kamu nggak perlu sekolah di jurusan Kedokteran Hewan buat tahu tentang penyakit ini. Mungkin, kamu juga ragu-ragu pelihara kucing gara-gara sering ditakut-takuti orangtua dengan penyakit ini. Kucing sering disebut sebagai dalang utama dari Toksoplasmosis. Banyak perempuan takut banget pelihara kucing soalnya takut kena penyakit Toksoplasmosis. Toksoplasmosis memang bisa bikin bayi terlahir cacat (buat ibu hamil). Tapi, salah kaprah banget kalau kucing dijadikan satu-satunya kambing hitam.

Kenyataannya, kucing cuma jadi pembawa atau carrier dari Toksoplasmosis. Penyebab utama dari Toksoplasmosis adalah parasit bernama Toxoplasma gondii. Parasit ini nggak cuma ditemukan di kucing saja, tapi juga di mamalia lain. Toxoplasma juga bisa ditemukan di tanah dan air. Kucing bisa tertular Toksoplasmosis kalau dia makan burung atau tikus yang terinfeksi parasit Toksoplasma. Ketika terinfeksi, si meong nggak menunjukkan gejala apapun. Tapi, dia tetap bisa menularkan Toksoplasmosis lewat kotorannya.

Kamu bisa terkena Toksoplasmosis lewat kucingmu kalau kamu nggak jaga kebersihan diri. Misalnya, kamu nggak cuci tangan dengan sabun setelah membersihkan kotoran kucing. Kamu juga bisa tertular kalau kamu nggak mencuci tangan setelah berkebun. Kebanyakan orang sehat nggak menunjukkan gejala saat terinfeksi Toksoplasmosis. Kalau kamu punya imun rendah, bisa saja kamu mengalami gejala seperti flu ringan. Sedangkan kalau kamu dalam kondisi hamil, Toksoplasmosis bisa mengakibatkan bayimu terlahir cacat.

Haruskah takut dengan Toksoplasmosis sampai membuang kucingmu? Nggak, dong! Soalnya, semuanya kembali ke kebersihan dirimu. Beri makan kucingmu makanan kucing komersial yang berkualitas. Kamu juga boleh kasih makan si meong makanan homemade. Asalkan daging yang kamu berikan benar-benar matang. Selain itu, kamu harus rajin-rajin cuci tangan dengan sabun. Terutama, setelah kamu membersihkan litterbox si meong. Kalau kamu lagi hamil, sebaiknya serahkan tugas bersih-bersih litterbox pada suami.

Terus membaca: 4.397 Nama Kucing Lucu Dari Jepang, China, Perancis, Amerika, Korea dan Indonesia >>

2. Campyblobacteriosis

Campyblobacteriosis adalah penyakit pencernaan yang disebabkan bakteri Campylobacter spp. Penyakit ini bisa menyerang kucing, dan juga menular ke manusia. Kucingmu bisa terkena Campyblobacteriosis kalau dia makan daging mentah yang terkontaminasi bakteri Campylobacter. Masalahnya, si meong bisa jadi nggak menunjukkan gejala sakit apapun. Walaupun, ada juga kasus kucing yang terinfeksi Campyblobacteriosis mengalami diare yang disertai dengan darah.

Kucingmu bisa jadi kelihatan sehat-sehat saja. Tapi, dia tetap bisa tularkan Campyblobacteriosis ini ke kamu lewat kotorannya. Penyakit ini bisa menular ke manusia yang nggak mencuci tangan setelah bersih-bersih litterbox kucing. Kamu juga bisa ketularan kalau nggak pakai sarung tangan atau scoop saat buang poop kucing. Bakteri ini juga bisa menular kalau kamu nggak cuci tangan setelah elus-elus si meong.

Siapapun bisa terkena Campyblobacteriosis. Tapi, anak balita, lansia, dan penyandang autoimun memang lebih rawan. Gejala baru muncul setelah 2 – 5 hari pasca infeksi. Gejala Campyblobacteriosis antara lain diare berdarah, demam, dan kram perut. Kamu bisa juga merasa mual sampai muntah-muntah. Campyblobacteriosis biasanya berlangsung selama seminggu. Selama sakit, jangan sampai kamu dehidrasi. Perbanyak minum air putih dan istirahat yang cukup, ya.

Penyakit Campyblobacteriosis bisa banget dicegah, kok. Solusinya cuma satu: jaga kebersihan! Kasih makan si meong  makanan kucing yang berkualitas. Kalau kamu mau kasih makan daging, pastikan dagingnya matang sempurna. Kamu juga harus cuci tangan setelah elus-elus si meong dan bersih-bersih litterbox. Lebih bagus lagi kalau kamu pakai sarung tangan buat bersihkan kotoran kucing. Kamu juga bisa beli sekop kecil buat angkat kotoran kucing di petshop.

3. Cat Scratch Disease (CSD)

Cat Scratch Disease bisa dibilang umum banget terjadi pada kucing. Terutama, kalau kamu punya kucing garong yang hobi berantem. Infeksi ini disebabkan oleh bakteri Bartonella henselae. Bakteri bisa menular ke sesama kucing melalui cakaran atau gigitan. Selain itu, transfusi darah dan gigitan kutu juga bisa jadi media penularan. Anak kucing atau kucing liar lebih rawan terkena infeksi bakteri ini. Kalau kucingmu belum disteril dan hobi keluyuran, dia juga berisiko kena infeksi CSD.

Kucing yang terkena CSD biasanya nggak menunjukkan gejala apapun. Walaupun ada juga yang menunjukkan gejala ringan, seperti demam yang berlangsung selama 2-3 hari. Gejala lainnya meliputi pembengkakan kelanjar getah bening, muntah-muntah, dan penurunan nafsu makan. Tapi, bisa dibilang gejala-gejala itu termasuk langka banget.  Malah, bisa jadi kamu bahkan nggak sadar kalau kucingmu sedang terinfeksi CSD.

Tapi, kamu nggak boleh lengah. Soalnya, kucing yang terkena CSD juga bisa menularkannya pada manusia, lho. Kamu bisa terkena CSD kalau kucingmu yang lagi sakit ini menggigit atau mencakarmu. Gejala baru muncul 1-3 minggu, dan umumnya kamu cuma mengalami gejala infeksi ringan. Kamu bisa mengalami pembengkakan ringan di area cakaran atau gigitan kucing. Kamu mungkin juga bisa mengalami demam, nyeri otot, hingga infeksi mata. Gejala infeksi parah bisa terjadi kalau kamu punya kondisi autoimun. Anak-anak usia di bawah 15 tahun juga rawan banget terkena infeksi ini.

Bagaimana cara mencegah Cat Scratch Disease (CSD)?

Untungnya, kamu bisa cegah penyakit Cat Scratch Disease. Cara paling mudah adalah dengan steril kucingmu. Steril kucing nggak hanya membantu mengontrol populasi kucing liar. Kucingmu juga jadi lebih tenang di rumah. Tingkat agresinya juga jadi jauh lebih berkurang. Sehingga, potensi dia berantem dengan kucing liar juga terminimalisir. Jangan lupa beri kucingmu obat kutu secara rutin. Kalau si meong mencakar atau menggigitmu, segera cuci bersih luka dengan sabun anti-bakteri dan air mengalir. Kalau kamu harus handle kucing liar, pakai sarung tangan atau handuk tebal. Jangan pernah memegang kucing liar dengan tangan kosong, ya!

4. Cat Tapeworm (Dipylidium Caninum)

Kamu pasti sudah tahu kalau kucing juga bisa banget terkena penyakit cacingan. Nah, penyakit Dipylidum Caninum adalah penyakit cacingan kucing yang menular ke manusia. Biang kerok dari penyakit ini adalah cacing pita, atau tapeworm. Si tapeworm ini bisa menular dari kucing ke kucing lewat perantara kutu. Kucingmu bisa terkena tapeworm ini kalau dia nggak sengaja menelan kutu waktu dia lagi grooming bulunya. Kucing dan manusia yang terkena infeksi Dipylidum Caninum biasanya nggak tunjukkan gejala sakit apapun. Tapi, kamu bisa lihat tapeworm ini di daerah anus kucing. Cacing pita juga bisa ditemukan di poop kucing yang masih baru. Gejala yang sama juga muncul pada manusia yang terkena penyakit ini.

Penularan penyakit ini ke kamu bisa dibilang langka banget. Soalnya, kamu harus telan kutu kucing dulu baru bisa tertular Dipylidum Caninum. Tapi, bukan berarti nggak mungkin. Penyakit cacing pita ini lebih umum menjangkit anak-anak balita. Tahu kan, mereka memang lagi masa kepo-keponya. Sehingga, bisa jadi mereka menelan kutu kucing tanpa sengaja saat lagi main di lantai. Kamu bisa cegah Dipylidum Caninum ini dengan memberikan obat kutu pada kucingmu secara rutin. Jangan lupa berikan obat cacing juga, ya. Jangan lupa rajin-rajin pel lantai rumahmu. Apalagi buat kamu yang punya anak kecil.

Baca juga: 8 penyebab mata kucing tertutup selaput putih [lengkap dengan solusinya] >>

5. Infeksi Cacing Tambang (Hookworm)

Selain cacing pita, kamu juga wajib waspada dengan cacing tambang. Cacing tambang, atau hookworm adalah cacing parasit yang sering banget menginfeksi kucing. Cacing ini bertahan hidup dengan menyerap semua nutrisi dari inangnya. Nggak heran, berat badan kucing yang terkena hookworm malah turun terus. Selain itu, kucingmu juga bisa terkena anemia. Anemia pada kucing ditandai dengan gusi yang berwarna pink pucat atau putih. Kucingmu juga kelihatan lemas. Kalau infeksi terjadi pada kitten, efeknya bisa fatal banget. Anak kucingmu bisa tertular hookworm lewat colostrum saat dia menyusu pada induk. Dia juga bisa terkena hookworm dengan nggak sengaja menelan kotoran hewan saat sedang grooming bulunya.

Infeksi hookworm juga bisa menjangkitimu, lho. Kamu bisa saja terinfeksi hookworm dengan jalan-jalan di kebun tanpa alas kaki. Gejala yang timbul adalah, kamu merasakan gatal pada area tubuh tertentu. Di area itu biasanya ada guratan kecil yang dibuat larva saat dia bergerak di bawah kulitmu. Untungnya, cacing tambang yang menginfeksi kucing nggak bisa bertahan lama di dalam tubuhmu. Biasanya, gejala gatal gara-gara hookworm kucing cuma bisa bertahan 4-6 minggu tanpa perawatan. Kamu bisa saja mempercepat pemulihan dengan konsultasi ke dokter.

Pemberian obat cacing buat si meong bisa bantu cegah infeksi hookworm. Kucing yang lagi menyusui juga boleh banget diberikan obat cacing. Dengan begitu, anak kucingnya juga bakal terbebas dari cacing tambang. Selalu kenakan sandal atau alas kaki lain saat kamu lagi jalan-jalan di kebun. Jangan lupa pakai sarung tangan karet saat sedang berkebun.

6. Cryptosporidiosis

Penyakit Cryptosporidiosis ini tergolong langka ditemukan di kucing. Tapi, kucingmu bisa jadi carrier dari penyakit ini. Biarpun kucingmu nggak menunjukkan gejala sakit, tetap saja dia bisa menularkannya ke kamu. Penyakit ini disebabkan oleh parasit Cryptosporidium atau Crypto yang ditemukan pada kotoran hewan. Kucingmu bisa terinfeksi penyakit ini kalau dia makan atau minum dari sumber yang terkontaminasi. Hal yang sama juga bisa terjadi pada kamu. Nggak harus dari kucing, kamu juga bisa tertular Cryptosporidiosis dengan media lainnya. Misalnya, kamu minum air dari sungai atau danau saat lagi wisata camping. Atau, bisa juga kamu nggak cuci tangan setelah menangani hewan yang terinfeksi penyakit ini.

Diare parah adalah gejala paling umum yang tunjukkan kamu terkena Cryptosporidiosis. Selain itu, kamu juga bisa saja alami kram perut, mual-mual, dan muntah. Ya, mirip banget deh dengan gejala keracunan. Biasanya, gejala penyakit ini bakal hilang dengan sendirinya setelah 1-2 minggu. Buat mencegahnya, selalu pakai scoop dan sarung tangan saat bersihkan kotoran kucingmu. Pastikan makanan dan minuman yang kamu dan kucingmu konsumsi benar-benar bersih. Kalau kamu lagi berpetualang outdoor, lebih baik bawa minuman dan makanan sendiri dari rumah. Jangan coba-coba minum air mentah, deh!

7. Giardiasis

Giardiasis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri parasit Giardia duodenalis. Kucingmu bisa terkena infeksi Giardiasis kalau dia makan makanan yang terkontaminasi bakteri Giardia. Dia juga bisa terkena penyakit ini kalau meminum air kotor. Gejala Giardiasis pada kucing biasanya meliputi diare. Kotorannya terlihat berminyak banget. Kalau dibiarkan terus-terusan, kucingmu bisa jadi mengalami dehidrasi. Makanya, jaga supaya si meong tetap terhidrasi dengan air minuman yang bersih. Cairan infus mungkin juga dibutuhkan kalau diare sudah terlanjur parah banget.

Bisakah Giardiasis menular ke manusia? Bisa banget. Tapi, kebanyakan kasus Giardiasis di manusia nggak disebabkan oleh kontak dengan kucing. Soalnya, strain bakteri Giardia yang menginfeksi kucing dan manusia ternyata beda. Kamu bisa terkena Giardiasis kalau mengkonsumsi makanan dan minuman yang terkontaminasi. Kamu juga bisa kena Giardiasis kalau hobi berenang di sungai, atau sumber air alami lainnya.

Memang, sampai sekarang nggak ditemukan bukti kalau Giardiasis kucing bisa menular ke manusia. Tapi, nggak ada salahnya buat lebih berhati-hati, kan? Buat jaga-jaga, selalu gunakan sarung tangan dan scoop saat bersihkan kotoran si meong. Jangan lupa cuci tanganmu dengan sabun dan air mengalir hingga benar-benar bersih. Selain itu, jaga kebersihan makanan dan minumanmu. Terutama, buat kamu yang hobi banget traveling.

8. MRSA (Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus)

Kamu mungkin nggak terlalu familiar dengan jenis penyakit satu ini. MRSA adalah penyakit yang dipicu oleh bakteri Staphylococcus aureus. Bakteri ini hidup di kulit manusia dan hewan. Biasanya bakteri ini nggak berbahaya. Tapi, ada kalanya penggunaan antibiotik bikin Staphylococcus jadi kebal. Alhasil, bakteri yang sudah kebal tadi mengakibatkan infeksi yang disebut MRSA. Nggak hanya bisa-bisa bikin kulit infeksi, MRSA juga sebabkan komplikasi parah. Bakteri ini bisa gampang banget menyebar lewat kontak kulit langsung. Kontak langsung ini bisa antara manusia – manusia, atau manusia – hewan. Hayo, lho!

Kucing yang menderita MRSA biasanya nggak menunjukkan gejala apapun. Tapi ada juga beberapa kucing yang tunjukkan reaksi infeksi kulit hingga infeksi pernapasan. Bahkan, kucingmu juga bisa kena infeksi saluran kencing gara-gara bakteri Staphylococcus ini. Biarpun kucingmu sehat-sehat saja, kamu juga berpotensi tertular MRSA. Kalau daya imunitasmu sehat, kamu nggak akan menunjukkan gejala apapun. Tapi, MRSA juga bisa bikin kamu terkena infeksi kulit. MRSA juga bisa mengakibatkan pneumonia dan komplikasi serius kalau nggak ditangani. Tapi, kejadian komplikasi ini terhitung jarang banget.

MRSA memang bisa menyebar lewat sentuhan langsung. Tapi, bukan berarti kamu harus parno dan nggak uyel-uyel si meong. Kalau kucingmu terkena MRSA, isolasi si meong yang lagi sakit di ruangan tersendiri. Jangan lupa untuk cuci tangan dan mandi setelah kamu memberikan obat. Yang paling penting, jangan lupa cuci tangan setelah elus-elus kucing.

9. Penyakit Pes

Tikus sering disebut sebagai penyebar penyakit pes atau plague. Tapi ternyata, hewan peliiharaanmu juga bisa terkena dan menularkan penyakit ini. Plague disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis. Penyakit pes bisa menjangkiti kucingmu lewat gigitan kutu. Kucing yang terinfeksi plague bisa mengalami gejala seperti demam dan penurunan nafsu makan. Nggak hanya itu, kalenjar getah bening di bagian leher kucing juga biasanya membengkak. Gejala lainnya, kucingmu juga bisa mengalami plague pneumonia. Gejala plague pneumonia meliputi batuk-batuk dan kesulitan bernapas.

Nah, kamu bisa ikut ketularan penyakit pes kalau nggak sengaja menghirup droplet dari kucingmu ini. Itulah kenapa, kamu wajib mengisolasi kucingmu di ruangan tersendiri saat merawatnya. Jangan lupa pakai masker untuk melindungi sistem pernapasanmu. Akan lebih baik lagi, kalau kamu memeriksakan kucingmu ke dokter hewan segera.

Jenis penyakit pes yang menyerang manusia disebut dengan bubonic plague. Gejala dari bubonic plague meliputi pembengkakan kelenjar getah bening, demam tinggi yang mendadak, meriang, dan sakit kepala. Kamu juga bisa merasa lemas selama masa infeksi. Selain bubonic plague, ada 2 jenis penyakit plague lainnya yang bisa menyerang manusia. Septicemic plague dan plague pneumonia bisa bikin gejala komplikasi yang lebih serius.

Untungnya, ada beberapa cara supaya kamu dan si meong aman dari plague. Salah satu caranya adalah membasmi tikus dengan jaga kebersihan rumah. Selain itu, berikan obat kutu rutin untuk kucingmu. Kalau kamu sedang merawat hewan yang terkena pes, gunakan perlindungan. Alat perlindungan yang perlu kamu pakai adalah masker, kacamata, dan sarung tangan. Jangan lupa cuci tanganmu dengan sabun anti bakteri setelah mengelus-elus kucing, ya.

10. Rabies

Dari semua penyakit menular pada kucing, rabies adalah yang paling mematikan. Penyakit ini memang sudah jarang banget ditemukan di Indonesia. Tapi, beberapa daerah seperti Pulau Bali masih struggling dalam menjinakkan penyakit satu ini. Rabies adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dan menyerang sistem syaraf otak. Semua hewan bertaring, termasuk kucingmu, bisa terserang dan menularkan penyakit ini. Rabies bisa menular lewat gigitan atau cakaran dari hewan yang terinfeksi. Kucingmu bisa saja terkena rabies saat berantem dengan kucing liar atau hewan bertaring lainnya.

Begitu dia terinfeksi rabies, kucingmu biasanya tunjukkan gejala yang cepat banget. Salah satunya adalah, dia mendadak jadi sangat agresif. Kucingmu bisa saja menyerang kucing-kucing lain, kamu, atau bahkan benda-benda mati. Nafasnya juga sering tersengal-sengal. Kucingmu juga jadi lumpuh di bagian-bagian tubuhnya. Dan itu cepat banget! Biasanya, si meong mati dalam jangka waktu beberapa hari setelah munculnya gejala-gejala itu. Sedih, ya?

Kalau kamu terinfeksi rabies, biasanya butuh waktu yang lebih lama hingga gejala muncul. Kamu mungkin merasa sedikit gatal atau sakit di area sekitar gigitan atau cakaran. Setelah itu, gejala seperti flu ringan dan mual-mual menyusul. Setelah beberapa hari, barulah kamu mulai mengalami gejala-gejala parah. Kamu jadi lebih sensitif terhadap sentuhan, cahaya yang terang, dan suara. Gara-gara meningkatnya sensitivitas itu, kamu juga jadi gampang marah. Kamu juga jadi sering berhalusinasi atau merasa bingung tanpa sebab. Kejang-kejang, dan lemah otot yang berakhir pada kelumpuhan juga bisa terjadi.

Seram banget, ya? Sampai sekarang, belum ditemukan obat buat menyembuhkan kucing dan manusia yang kena rabies. Tapi, kamu bisa mencegah penyakit ini dengan ikut vaksinasi rabies. Vaksinasi rabies mulai bisa diberikan saat kucingmu berusia 8 minggu. Setelah itu, kamu wajib upgrade vaksin dengan booster setiap 3 tahun. Kalau kamu digigit kucing atau hewan liar, segera cuci lukamu dengan alkohol dan air bersih. Jangan lupa buat kontak dokter buat pertolongan lebih lanjut.

11. Ringworm

Walaupun namanya mengandung worm, penyakit ringworm nggak disebabkan oleh cacing. Penyakit ini disebabkan oleh jamur yang bikin kulit kucingmu jadi gatal-gatal. Bahkan, bisa saja bulu kucingmu juga jadi rontok gara-gara terlalu sering digaruk. Ringworm memang jenis penyakit kulit yang banyak banget dialami kucing-kucing. Kalau kucingmu terkena ringworm, biasanya akan langsung menunjukkan gejala. Gejala tersebut antara lain pitak atau botak kecil di beberapa area kuping, wajah, dan kaki. Di area yang pitak itu juga biasanya terlihat berkerak atau bersisik. Itu gatalnya setengah mati, lho. Makanya nggak heran kalau kucingmu kelihatan sibuk banget garuk-garuk area yang terinfeksi.

Ringworm pada kucing juga gampang banget nyebar ke manusia, lho. Kamu bisa ketularan jamur ini kalau nggak sengaja menyentuh bagian kulit yang terinfeksi. Tanda-tanda infeksi ringworm pada manusia adalah munculnya ruam berbentuk cincin (ring) yang gatal banget. Tapi, jangan kamu garuk! Soalnya, itu malah bisa bikin ruam menyebar ke bagian kulit yang sehat. Selain di kulit, ringworm juga bisa menginfeksi bagian kulit kepala. Biasanya ditandai dengan rasa gatal pada bagian kulit kepala. Setelah itu, biasanya rambutmu bakal rontok sehingga bikin pitak. Kukumu juga bisa terinfeksi jamur satu ini. Kuku yang terkena ringworm biasanya jadi rapuh dan gampang patah. Selain itu, kukumu juga bisa mengalami perubahan warna atau penebalan. Jadi jelek banget deh, pokoknya.

Untuk meredakan gatal-gatal, gunakan krim hidrokortison. Krimi ini terbukti ampuh banget untuk mengatasi ruam-ruam yang bikin jengkel itu. Jangan lupa, bawa kucingmu ke dokter hewan untuk pengobatan jamur. Buat mencegah ringworm, rajin-rajin jaga kebersihan rumah dan kucing kesayanganmu. Ganti alas tidur kucingmu dengan teratur dan mandikan kucingmu selama beberapa bulan sekali. Pel lantai rumahmu dengan cairan disinfektan. Gunakan vacuum buat bersihkan debu di sofa, karpet, dan tempat-tempat lain yang dihinggapi kucingmu.

12. Toxocariasis

Kamu mungkin sudah sering banget dengar kata Toxoplasmosis. Tapi, pernah nggak dengar istilah Toxocariasis. Toxocariasis atau cacingan adalah penyakit pada kucing yang disebabkan oleh cacing roundworms. Penyakit ini bisa menular ke kucing kalau dia nggak sengaja menelan makanan yang terkontaminasi telur cacing. Kucing juga bisa nggak sengaja menelan telur cacing ini saat dia lagi menjilati bulunya. Penyakit ini lebih sering menjangkiti anak kucing, dengan gejala klasik yaitu perut buncit. Toxocariasis juga bisa bikin si meong terkena diare hingga dehidrasi. Saat kamu sentuh, bulunya juga terasa kasar banget. Cacing roundworms menyerap nutrisi dengan menempel di usus kucing. Kucing bisa sebarkan parasit ini lewat kotorannya dengan telur cacing di dalamnya.

Kamu juga bisa banget terkena Toxocariasis. Apalagi, kalau kamu nggak cuci tangan setelah bersih-bersih litterbox si meong. Buat kamu yang hobi berkebun tanpa pakai sarung tangan dan cuci tangan juga rawan terinfeksi. Anak kecil yang punya kekepoan tingkat tinggi juga bisa saja terkena penyakit ini. Begitu roundworms masuk ke dalam tubuh, dia bakal menginfeksi organ-organ vital. Contohnya, organ paru-paru, hati, hingga sistem syaraf pusat. Gejala umum Toxocariasis antara lain batuk-batuk, kelelahan, demam tinggi, hingga nyeri otot perut.

Kalau roundworms itu bermigrasi ke organ mata, maka bisa mengakibatkan Ocular toxocariasis. Ocular toxocariasis bisa bikin daya penglihatanmu menurun. Pembengkakan pada mata yang terinfeksi juga bisa banget terjadi. Bahkan, roundworms itu juga bisa bikin retinamu jadi rusak. Ngeri banget, ya? Makanya, jagalah kebersihan diri dan kucingmu. Berikan obat cacing rutin khusus buat membunuh roundworms pada kucingmu. Selain itu, selalu gunakan sarung tangan saat sedang bersihkan poop kucing. Yang paling penting, selalu cuci tanganmu hingga bersih dengan sabun dan air yang mengalir.

13. Salmonellosis

Sering dengar nama bakteri Salmonella, kan? Salmonellosis adalah nama penyakit yang diakibatkan oleh bakteri ini. Kamu bisa terkena penyakit ini dengan mengkonsumsi makanan mentah yang terkontaminasi bakteri Salmonella. Tapi kucingmu juga bisa menularkannya padamu lewat perantara kotoran. Sama seperti kamu, si meong bisa terinfeksi Salmonellosis kalau dia makan ikan atau daging mentah. Kalau sistem imun kucingmu bagus, dia nggak akan tunjukkan gejala apapun. Kecuali, buat kucing yang masih kitten. Biasanya si kitten bakal tunjukkan gejala diare ringan.

Nah, bakteri Salmonella dari kucingmu ini bisa menular ke kamu lewat kotorannya. Jadi, kamu wajib pakai sarung tangan dan scoop saat membuang kotoran meong. Selain itu, kamu juga harus cuci tanganmu dengan sabun hingga benar-benar bersih. Supaya kucingmu nggak kena Salmonellosis, jangan beri dia daging mentah. Memang, katanya daging mentah pilihan yang paling bagus buat diet si meong. Ada benarnya, sih. Kucingmu juga jadi dapat nutrisi makanan yang dia butuhkan. Tapi, lebih baik jangan ambil resiko. Selain jadi sumber Salmonellosis, daging mentah juga jadi sumber Toksoplasmosis, lho. Lebih baik kamu beri makan si meong dengan daging yang sudah diolah dengan matang. Kamu juga bisa berikan dia makanan kucing dengan kandungan protein tinggi. Dengan begitu, dia bisa dapat semua nutrisi yang dibutuhkan tanpa harus terkena Salmonellosis.

14. Sporotrichosis

Penyakit Sporotrichosis memang jarang banget didengar. Soalnya, jumlah orang yang kena penyakit ini juga lumayan jarang. Penyakit ini disebabkan oleh jamur Sporothrix spp. Kamu bisa terkena infeksi bakteri ini jika kulitmu tergores oleh duri tanaman. Selain itu, Sporotrichosis juga bisa menyebar lewat gigitan atau cakaran kucing. Kucing yang terkena Sporotrichosis biasanya nggak menunjukkan gejala. Kalaupun ada, biasanya bisa kamu lihat lewat bekas luka cakaran atau gigitan pada kulitnya. Bekas luka itu biasanya berubah jadi benjolan yang jadi semakin parah. Pemulihan luka ini juga lambat banget.

Gejala Sporotrichosis di manusia ternyata lebih beragam dibandingkan pada kucing. Kalau kamu terinfeksi Sporotrichosis, gejala yang muncul tergantung dari lokasi gigitan atau cakaran. Yang paling umum adalah timbulnya benjolan di sekitar area luka. Biasanya, benjolan ini muncul sekitar 1 – 12 minggu setelah luka terbentuk. Warna benjolan juga macam-macam, mulai dari warna merah, pink, atau ungu. Lama-kelamaan benjolan itu bakal terus membesar sampai jadi luka terbuka. Luka ini bakal lama banget sembuhnya. Beberapa benjolan juga bisa muncul di sekitar benjolan utama.

Kalau kamu punya sistem imun rendah, gejala Sporotrichosis yang muncul bisa lebih fatal. Infeksi itu bisa menyerang organ internal hingga tulangmu. Gejala Sporotrichosis yang lain juga meliputi batuk-batuk, sesak napas, nyeri dada, dan demam. Kalau kamu mengalami gejala-gejala di atas, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter. Buat mencegah penyakit ini, segera cuci bersih luka cakaran atau gigitan kucing. Kamu juga perlu membersihkan lukamu kalau terkena goresan luka saat berkebun dengan cairan antiseptik. Kamu juga bisa mencegah kucingmu terkena Sporotrichosis dengan menjadikannya kucing indoor. Kalau kucingmu terinfeksi, pisahkan dia dari kucing-kucing yang lain. Jangan lupa cuci tanganmu dengan bersih setelah melakukan perawatan.

15. Tickborne Diseases

Sama seperti kutu, ticks atau caplak adalah hewan parasit yang hinggap di kucing. Caplak juga jadi sarang dari berbagai macam penyakit menular. Banyak banget penyakit kucing yang menular ke manusia lewat perantara caplak. Contohnya adalah penyakit Lyme, atau Lyme Disease. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Borrelia burgdorferi. Kucingmu bisa terinfeksi Lyme Disease lewat liur caplak yang menggigitnya. Gejala penyakit Lyme pada kucing meliputi demam, hilangnya nafsu makan, dan kesulitan bernapas. Nggak hanya itu, penyakit ini juga bisa berdampak pada organ ginjal, jantung, dan sistem syaraf kucing. Tapi, bisa juga kucingmu nggak menunjukkan gejala apapun. Tapi, dia tetap bisa menularkan penyakit ini, ya.

Kalau caplak yang terinfeksi penyakit Lyme menggigitmu, kamu juga bisa terkena penyakit ini. Gejala umum penyakit Lyme pada manusia antara lain: demam, sakit kepala, kelelahan, hingga munculnya ruam. Untungnya, kamu bisa meredakan gejala penyakit ini dengan bantuan antibiotik. Paling nggak, butuh waktu beberapa minggu sampai kamu bisa sembuh dari penyakit ini.

Trus, gimana caranya supaya kamu dan si meong aman dari si caplak? Cara terbaik adalah kamu jadikan kucingmu sebagai kucing indoor. Dengan begitu, dia bakal terjaga dari kontak dengan caplak. Kalaupun nggak memungkinkan, ada cara lain. Yaitu, dengan menggunakan obat anti kutu dan anti caplak pada kucingmu. Ada banyak banget lho, merek yang bisa kamu pilih. Kalau kamu nggak yakin, boleh saja minta pendapat dokter hewan. Kamu juga bisa menyemprotkan cairan anti serangga di dalam rumah. Tapi, pastikan cairan itu aman buat kucing, ya!

Kesimpulan

Kucing memang menggemaskan, pakai banget. Tapi, si meong ternyata juga bisa jadi sarang penyakit. Ada 15 penyakit kucing (zoonosis) yang menular pada manusia. Penyakit yang paling umum kamu dengar adalah: Toksoplasmosis, Ringworm, Rabies, dan Cat Scratch Disease. Tapi, bukan berarti kamu harus takut memelihara kucing. Apalagi, sampai membuang kucing-kucing kesayanganmu.

Soalnya, penyakit-penyakit menular itu sebenarnya bisa diatasi, kok. Kamu bisa cegah penyakit-penyakit di atas dengan jaga kebersihan diri dan rumah. Contohnya, seperti mencuci tangan dengan bersih menggunakan sabun.  Kalau dicakar atau digigit kucing, segera bersihkan luka dan hubungi dokter. Jangan lupa check-up rutin ke dokter hewan dan jadwalkan vaksinasi rabies buat kucingmu. Kucingmu sehat, kamu pun pasti bahagia.

Baca lebih lanjut: Kutu telinga kucing: gejala, pengobatan dan pencegahan >>