5 penyebab plasenta kucing tidak keluar beserta solusinya

Plasenta adalah organ dalam kucing betina yang berfungsi menyalurkan nutrisi, oksigen dan energi ke tubuh bayi kucing. Pada kasus normal, plasenta kucing selalu keluar secara bersamaan dengan kelahiran anak kucing. Tapi, kadang ada kasus plasenta kucing tidak keluar dan tertinggal di dalam rahim (retained placenta). Kenapa itu bisa terjadi? Plasenta tidak keluar secara normal atau tertinggal di dalam rahim biasanya disebabkan oleh Dystocia. Dystocia terjadi saat induk kucing melahirkan pada kondisi tidak normal. Misalnya: posisi anak kucing abnormal (sungsang), anak kucing berukuran terlalu besar, anak kucing mati dan sulit dilahirkan. Pada artikel ini saya akan membahas secara tuntas tentang retained placenta dan dystocia. Yuk, langsung ke pembahasan.

Apa itu retained placenta?

Retained placenta adalah kondisi di mana plasenta dari anak kucing tertahan di dalam rahim kucing betina. Bahasa sederhana retained placenta adalah plasenta kucing tidak mau keluar pasca melahirkan. Kondisi ini sangat serius, karena mengancam kesehatan dan nyawa dari induk kucing.

Plasenta yang tidak mau keluar akan mulai membusuk di dalam rahim kucing betina pada hari kedua. Pembusukan plasenta turut membawa serta potensi infeksi bakteri pantogen. Dan pada kasus ekstrim, bakteri akan mudah menyebar mulai dari plasenta yang membusuk ke seluruh tubuh kucing. Media perantaranya adalah aliran darah yang terdapat di dinding rahim kucing betina.

Secara naluri, kucing akan melakukan kontraksi untuk mengeluarkan plasenta yang tertinggal. Akan tetapi itu tidaklah mudah. Jika dalam 24 jam plasenta tetap tidak mau keluar, segera bawa induk kucing ke dokter hewan. Dokter hewan akan melakukan tindakan medis untuk membersihkan rahim kucing dan mengeluarkan plasenta yang tertinggal (retained placenta).

Ada tiga kasus retained placenta:

  • Pertama, anak kucing keluar tanpa plasenta. Pada kasus ini, plasenta telah putus di dalam rahim induk kucing. Entah karena air ketuban sudah pecah, atau karena posisi melahirkan yang tidak normal.
  • Kedua, anak mati dalam kandungan. Anak kucing yang sudah abnormal sejak awal embrio kadang mati di dalam kandungan. Pada kasus ini, plasenta tidak bekerja dengan baik. Jadi, ikatan antara bayi kucing dan plasenta sangat lemah. Apabila kucing betina kesulitan dalam melakukan kontraksi yang kuat, plasenta dapat tertinggal di dalam rahim. Bahkan bisa menyumbat rahim dan menghalangi proses kelahiran anak kucing berikutnya.
  • Ketiga, kesalahan dalam proses persalinan. Kadang ada pemilik kucing pemula yang ingin membantu proses persalinan kucing. Akan tetapi, metode yang dia lakukan salah. Akibatnya, hanya anak kucing yang keluar dari rahim kucing. Dan plasenta kucing tidak mau keluar. Jadi, sebelum membantu persalinan kucing, kamu belajar teori, teknik dan tips persalinan kucing terlebih dahulu ya.

Gejala retained placenta pada kucing

Apa gejala umum yang menandai retained placenta? Ada banyak gejala yang bisa kamu amati untuk menentukan plasenta kucing tertinggal atau tidak. Cara konvensional yang selalu pemilik kucing pakai adalah menghitung jumlah anak kucing dan jumlah plasenta yang keluar.

Rumusnya sederhana, yaitu: satu anak kucing akan membawa satu plasenta. Dari fakta ini kamu pasti langsung paham ke mana arah pembicaraan ini. Ya, benar. Kamu harus mencocokkan jumlah anak kucing dengan jumlah plasenta yang keluar. Apabila jumlahnya tidak cocok kemungkinan ada plasenta yang tertinggal atau hilang.

Catatan: metode menghitung jumlah anak dan jumlah plasenta akan 100% akurat saat kamu melihat prosesi persalinan kucing sampai selesai. Karena, apabila kucing betina tidak diawasi saat melahirkan, kadang kucing makan plasenta anaknya sendiri secara diam-diam. Ini menimbulkan ketidakcocokan dalam perhitunganmu.

Selain perbedaan antara jumlah anak dan jumlah plasenta, kamu dapat mengenali retained placenta dengan melihat kondisi kucing. Perhatikan kondisi fisik kucing pasca melahirkan. Apabila plasenta kucing tidak mau keluar, kucing akan memberikan gejala, seperti di bawah ini:

  1. Tubuh kucing lemah.
  2. Kucing mengalami dehidrasi.
  3. Denyut jantung kucing sangat cepat.
  4. Kucing mengalami demam.
  5. Kucing kehilangan nafsu makan.
  6. Gusi kucing berwarna merah tua.
  7. Perut kucing bengkak tanpa sebab yang jelas.
  8. Terdapat cairan lochia yang berbau busuk dan menyengat. Cairan lochia adalah cairan yang berasal dari vulva kucing betina. Pada kondisi normal berwarna coklat kemerahan. Biasanya keluar pada hari pertama setelah kucing betina melahirkan. Apabila terdapat infeksi bakteri pada plasenta yang tidak mau keluar, cairan lochia akan berwarna hijau dan berbau. Ini menandakan infeksi bakteri sudah menjalar ke rahim kucing.
  9. Produksi air susu kucing berkurang.
  10. Keluar darah secara terus menerus selama lebih dari seminggu.

5 penyebab plasenta kucing tidak mau keluar

Kasus plasenta tidak mau keluar sangat jarang terjadi pada persalinan kucing. Bahkan di alam liar pun retained placenta sangat jarang terjadi. Tapi, ya kadang ada pemilik kucing yang sedang dapat nasib buruk, karena kucingnya mengalami retained placenta. Untuk menambah wawasan kamu, berikut ini 5 penyebab plasenta kucing tidak mau keluar:

1. Kucing betina mengalami persalinan yang sulit dan cenderung abnormal

Kucing betina yang mengalami persalinan abnormal bisa menyebabkan retained placenta. Kejadian abnormal ini disebut dystocia. Dystocia adalah keadaan di mana anak kucing dalam kondisi tidak sehat sejak di dalam kandungan. Karena kondisi sakit, satu atau dua anak kucing tidak memposisikan diri dengan benar menjelang proses persalinan. Akibatnya, anak kucing sulit untuk dilahirkan. Induk kucing pun terus memaksa kontraksi dan akhirnya anak kucing keluar tanpa plasenta. Plasenta putus dan tertinggal di dalam rahim.

2. Kucing betina mengandung anak kucing yang berukuran besar (abnormal)

Anak kucing yang terlalu besar juga bisa menyebabkan plasenta tidak mau keluar. Kasus ini terjadi pada pemilik kucing di Inggris, di mana, anak kucing yang lahir memiliki ukuran jumbo. Pemilik kucing dengan sabar menemani si meong, namun 6 jam berlalu anak kucing belum lahir. Sampai akhirnya, induk kucing kelelahan dalam melakukan kontraksi.

Akhirnya, kucing dibawa ke dokter hewan. Kemudian, dokter hewan melakukan penanganan medis untuk persalinan kucing. Dan anak kucing lahir dengan selamat. Akan tetapi, ternyata plasenta akan kucing tertinggal dan menyumbat di jalur melahirkan. Untung ada dokter, jadi kucing betina langsung mendapatkan perawatan medis sampai semua anak kucing lahir dengan selamat.

Catatan: anak kucing yang berukuran jumbo bisa membuat bayi kucing sulit keluar. Apabila induk kucing memaksakan kontraksi kuat, plasenta dapat putus dan tertinggal di dalam rahim (retained placenta).

3. Salah satu anak kucing mati di dalam kandungan

Anak kucing yang mati di dalam kandungan juga bisa memicu retained placenta. Alasannya karena anak kucing yang telah mati sejak di dalam kandungan, biasanya tidak dapat menempatkan posisi dengan di jalur persalinan. Plasenta dan tali pusar yang mengikat anak kucing juga sangat lemah. Akibatnya, induk kucing akan kesulitan melahirkan bayi kucing tersebut. Dan pada kasus ekstrim, setelah bayi kucing lahir, plasenta tidak mau keluar.

4. Terjadi benturan keras saat kucing sedang hamil

Kucing betina yang memiliki kandungan lemah, terkena benturan keras hingga mempengaruhi kondisi janin. Ada beberapa kasus akibat benturan keras, anak kucing mengalami pendarahan di dalam rahim. Contoh benturan keras, yaitu: kucing jatuh dari ketinggian, kucing dipukul orang, kucing tertabrak motor/mobil. Dan akhirnya, anak kucing mengalami putus plasenta. Dengan begitu, anak kucing akan lahir dengan plasenta tertinggal di dalam rahim.

5. Kucing memiliki anak terlalu banyak

 

Umumnya, kucing betina melahirkan 3-5 anak kucing dalam sekali melahirkan. Akan tetapi, ada lho, kucing yang bisa melahirkan lebih dari 9 anak kucing sekali hamil. Nah, apabila kucing tidak mendapatkan nutrisi yang tepat selama mengandung banyak anak, kondisi rahim akan lemah. Hal ini sangat mempengaruhi kesehatan janin dan plasenta. Banyak kasus, induk kucing yang memiliki anak banyak akan melahirkan anak dalam ukuran yang bervariasi. Ada yang besar, kecil, dan lemah.

Anak kucing yang terlahir lemah inilah yang sering membawa masalah pada induk kucing. Karena sering menyebabkan plasenta tidak mau keluar. Kasus ini jarang terjadi, tapi anak kucing yang lemah sejak di dalam kandungan berpotensi besar mengalami retained placenta.

Cara mendiagnosis plasenta yang tertinggal di dalam rahim kucing

Apabila kucing betina yang baru saja melahirkan menunjukkan gejala retained, segera hubungi dokter hewan. Saya sudah menjelaskan secara detail gejala awalnya pada pembahasan di atas. Dokter hewan yang menerima laporan retained placenta, pasti akan segera bergegas membantumu. Karena kasus retained placenta itu menyangkut keselamatan nyawa si kucing. Berikut ini 6 cara dokter hewan dalam mendiagnosis plasenta yang tidak mau keluar:

  • Pertama, dokter hewan akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh. Misalnya: memeriksa suhu tubuh kucing dan mendengarkan detak jantungnya.
  • Kedua, dokter hewan akan langsung memeriksa vulva induk kucing. Dia akan mengamati cairan yang keluar dan mendeteksi ada tidaknya infeksi di dalam rahim kucing.
  • Ketiga, dokter hewan akan melakukan uji urinalis untuk memeriksa tanda-tanda penyebaran infeksi.
  • Keempat, dokter hewan akan melakukan uji sample darah untuk memeriksa apakah infeksi sudah menyebar keseluruhan tubuh kucing melalui pembuluh darah.
  • Kelima, dokter hewan melakukan uji ultrasonografi untuk melihat posisi plasenta yang tertinggal di dalam rahim kucing. Dengan mengetahui posisinya, dokter hewan dapat melakukan tindakan medis yang tepat.
  • Terakhir, kadang dokter hewan mengganti ultrasonografi dengan pengujian X-ray. Tujuannya saya, yaitu untuk menemukan lokasi plasenta yang tidak mau keluar.

Bagaimana cara mengobati kucing yang mengalami retained placenta?

Ada beberapa cara mengeluarkan plasenta yang tertinggal. Akan tetapi, ini perlu bantuan praktisi kucing atau dokter hewan ahli. Berikut ini 3 cara mengeluarkan plasenta yang tidak mau keluar dari rahim kucing.

  1. Dokter hewan akan memberikan tindakan fisik kepada kucing untuk membantu kontraksi besar. Tujuannya adalah untuk mengeluarkan plasenta yang tidak mau keluar tersebut.
  2. Apabila kondisi fisik kucing sudah sangat lemah, dokter hewan akan memakai cara kedua, yaitu: suntikan pemacu kontraksi rahim. Dokter hewan akan menyuntikkan cairan oxytocin untuk pacu buatan. Cairan oxytocin akan membuat rahim berkontraksi hebat, dan memaksa plasenta keluar.
  3. Apabila plasenta yang tidak mau keluar sudah beberapa hari di dalam tubuh kucing, kemungkinan besar sudah terjadi infeksi rahim. Mau tidak mau, suka tidak suka, dokter hewan akan melakukan tindakan pembedahan rahim, yaitu: Celiotomy. Jadi, dokter hewan akan mengambil secara manual plasenta yang tertinggal. Sebelum melakukan celiotomy, dokter hewan akan memeriksa persebaran infeksi. Apabila infeksi pembusukan plasenta sudah tersebar keseluruhan rahim kucing dan sulit untuk diobati, dokter hewan akan mengangkat seluruh rahim kucing. Dengan begitu, induk kucing akan sekalian dimandulkan melalui prosedur pembedahan celiotomy.

Proses pemulihan kucing betina setelah perawatan retained placenta

Proses pemulihan kucing betina pasca menjalani perawatan pengeluaran plasenta bermacam-macam. Ada yang hanya butuh antibiotik dan ada yang perlu rawat inap. Saya akan menceritakan garis besarnya saja ya. Agar lebih mudah, saya bagi menjadi dua kasus:

  • Kasus pertama, induk kucing mendapatkan perlakuan pacu buatan. Entah itu pacu kontraksi dengan tindakan fisik atau pacu kontraksi dengan suntikan oxytocin. Pada kasus ini, kucing betina akan mendapatkan obat antibiotik selama 3 hari. Dan selalu kontrol setiap obat antibiotik habis. Waktu pemulihan kurang dari 1 minggu.
  • Kasus kedua, induk kucing mendapatkan operasi bedah celiotomy. Pada kasus pengangkatan plasenta dengan cara pembedahan, kucing betina butuh rawat inap. Biasanya 1-2 hari. Tergantung kondisi fisik kucing betina. Kucing betina memerlukan beberapa tindakan pembedahan, jahitan dan perlu mengkonsumsi obat. Obat pasca operasi celiotomy biasanya adalah antibiotik dan pereda nyeri. Waktu pemulihan pasca operasi celiotomy bisa memakan waktu 7-14 hari. Tergantung kecepatan pemulihan si kucing.

Catatan: Pada masa recovery, saya menyarankan untuk selalu menjaga kebersihan kucing. Karena sistem imun kucing sangat lemah. Pastikan selalu mengikuti perintah dokter hewan dan kontrol tepat waktu.

Kesimpulan

Kasus plasenta kucing tidak mau keluar (retained placenta) saat kucing melahirkan itu jarang terjadi. Akan tetapi, ada kemungkinan induk kucing mengalami retained placenta. Ada lima penyebab retained placenta:

  1. Kucing betina mengalami persalinan yang sulit dan cenderung
  2. Kucing betina mengandung anak kucing yang berukuran besar (abnormal).
  3. Salah satu anak kucing mati di dalam kandungan.
  4. Terjadi benturan keras saat kucing sedang hamil.
  5. Kucing memiliki anak terlalu banyak.

Akhir kata, apakah ada informasi terkait topik “plasenta kucing tidak mau keluar” yang saya lewatkan. Ingatkan saya melalui kolom komentar. Kritik dan masukan kamu akan saya pakai sebagai renungan untuk memperbaiki artikel ini.

Baca lebih lanjut: Ini 5 alasan kenapa kucing makan plasenta anaknya sendiri »